Kamis, 19 April 2012

Desi Arini LP_105104047

TUGAS PSIKOLINGUISTIK 3

Analisis Percakapan Dengan Menggunakan Teori- teori Para Ahli
Nama           : Desi Arini Lestari Pratiwi
Nim              : 105104047
Hari/Tgl       : Selasa 17 April 2012
Waktu          : 20.02 WITA
Tempat         : Vihara Sasanadipa

A . PERCAKAPAN
Rapat pembuatan majalah Dharma News
Lia                    : Bagaimana proposalnya sudah siap diantarkan?
Candra           : Sepertinya harus diulang ce’. Karena kalau mau ikut harga majalah darma  citra terlalu mahal, sedangkan majalah kita masih edisi perdana.
Imelda            : Bagaimana ini candra bilangnya kemarin harga sudah oke, proposal sudah siap kok diubah lagi. Aduhh..tidak jelas. 
Candra           : iya maaf, kemarin saya Tanya bante (biksu) nasehatnya jangan terlalu mahal patokan harganya. Jadi saya ikut saja.
Cecil               : Alasan itu..hehe…
Lia                   : ya sudah..kita ulangmi saja proposalnya jangan juga terlalu kaku. Cukup anggaran yang dipaparkan secara rinci. Hendra tolong papan tulisnya dipindahkan dibelakangnya candra supaya tidak membelakangi altar.
Hendra           : Siap!!
Lina                : selamat malam semua, maaf terlambat..
Jonatan          : Biasanya juga gitu…(semua tertawa)


B. ANALISIS PERCAKAPAN

1.Berdasarkan Teori Ferdinand De Saussure
De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur merupakan suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih.
Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga serta bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara atau pendengar.  Jika A berbicara maka B menjadi pendengar, begitupun sebaliknya.
Di dalam otak penutur terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Baik konsep maupun imaji bunyi itu terletak dalam satu tempat yaitu di pusat penghubung yang berada di otak. Jika penutur ingin mengemukakan sebuah konsep kepada pendengar, maka konsep itu membuka pintu kepada pewujudnya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak (fenomena psikologis). Kemudian dengan terbukanya pintu imaji bunyi ini, otak pun mengirim satu impuls yang sama dengan imaji bunyi itu kepada alat-alat ucap yang mengeluarkan bunyi (fenomena fisiologis). Gelombang bunyi tersebut bergerak dari mulut penutur ke telinga pendengar (proses fisik). Dari telinga pendengar, gelombang bunyi terus masuk ke otak pendengar dalam bentuk impuls.
Contoh dari percakapan diatas, ketika Imelda mengatakan “bagaimana ini candra kemarin bilangnya harganya sudah pas, kok sekarang diubah lagi, aduhh..tidak jelas...”, imelda yang berperan sebagai penutur mengeluarkan bunyi yang telah terkonsep dalam otaknya. Gelombang bunyi itu bergerak dari mulut imelda melalui udara ke telinga ke enam pendengar dan bergerak terus masuk ke otak mereka dalam bentuk impuls. Candra yang berperan sebagai salah satu pendengar kemudian memahami konsep yang ada di dalam otak imelda dengan mendengarkan bunyi-bunyian tersebut lalu memproses bunyi-bunyi itu di dalam otaknya sehingga menimbulkan konsep yang sama seperti yang ada dalam otak imelda. Hal ini juga berlaku ketika candra yang menjadi pembicara kemudian imelda yang menjadi pendengar.




2.    Berdasarkan Teori Leonard Bloomfield
Bloomfield yang menganut paham behaviorisme menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviourisme tersebut. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan di mana unsur-unsur berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.
Pada percakapan di atas, lia berkata kepada Hendra, “Hendra tolong papan tulisnya dipindahkan dibelakangnya candra supaya kita tidak membelakangi altar.” Perkataan tersebut muncul karena adanya stimulus ketika Lia ingin menulis dipapan tulis. Perilaku Lia sewaktu berkata kepada Hendra merupakan sebuah respon dari stimulus ketika melihat papan tulis dan altar yang saling berhadapan sehingga dapat membuat peserta rapat membelakangi altar. Perilaku Hendra ketika mendengarkan bunyi-bunyi bahasa atau suara yang dikeluarkan oleh Lia merupakan stimulus. Otak Hendra memproses bunyi bahasa atau suara Lia di otaknya sampai bertindak dengan menjawab sebagai  respon dari stimulus tadi.
Jadi, dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Bloomfield hanya mengkaji bagian ketika bunyi-bunyi atau suara mulai dikeluarkan dari mulut sang pembicara. Hal tersebut disebabkan karena dapat diamati dan diobservasi secara konkret. Bloomfield yang menganut paham behaviourisme mengganggap bahwa perilaku dalam bertuturlah yang menjadi bagian penting dalam kajian linguistik.

3.    Berdasartkan Teori John Repert Firth
Firth mengatakan bahwa kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Namun, Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Misalnya, pada percakapan di atas ketika Lia mengatakan, ”ya sudah kita ulangmi saja proposalnya, jangan juga terlalu kaku… ”. Kata kaku dalam kalimat tersebut akan menimbulkan makna ganda ketika berdiri sendiri. Untuk menjelaskan makna sesungguhnya dari bentuk kata tersebut, kita perlu melangkah ke tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkatan sintaksis.  Jika kata kaku dirangkaikan dengan kata-kata yang lain, seperti dalam percakapan di atas, maka dengan mudah akan diketahui bahwa kata kaku itu mengandung pengertian kata formal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar