Tampilkan postingan dengan label Desi Arini LP (105104047). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desi Arini LP (105104047). Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

Desi Arini Lestari Pratiwi_105104047


Nama         : Desi Arini Lestari Pratiwi
Nim            : 105104047
Prodi/Kls   : PBSI/B

TEORI-TEORI KOGNITIF

Setelah memahami beberapa teori pembelajaran dalam psikologi yang bertumpu pada teori hubungan stimulus-respons, selanjutnya akan dikemukakan beberapa teori pembelajaran dalam psikologi yang bertumpu pada teori kognitif.  Sebelum membahas teori kognitif, ada baiknya jika kita mampu membedakan antara pandangan behaviorisme dengan pandangan Gestalt. Yaitu:
Behavior
Elemental, objektif, Empiristik
Menitikberatkan pada proses hubungan stimulus-reinforcement-respon sebagai bagian terpenting dalam belajar.
Lebih menekankan pada perilaku empiris (nyata)
Belajar ditafsirkan sebagai perubahan perilaku
Contoh : mengubah perilaku siswa yang tampak.
Gestalt
Holistik, Subjektif,  Kognitif, nativistik (dipengaruhi oleh pembawaan) Fenomenologis.
Berpandangan bahwa tingkahlaku seseorang bergantung pada insight
(pencerahan/pemahaman) daripada trial & error
Lebih menekankan pada kognisi
Lebih pada reorganisasi perseptual dalam memperoleh pemahaman.
Contoh : Mengubah pemahaman siswa tentang masalah yang dihadapinya.
Disini yang dimaksud dengan teori kognitif adalah pengkajian bagaimana caranya persepsi mempengaruhi perilaku dan bagaimana caranya pengalaman mempengaruhi persepsi. Dengan kata lain, teori kognitif mencoba mengkaji  proses-proses akal atau mental yang berlaku pada waktu proses pembelajaran berlangsung.
A. Teori Behaviorisme Purposif dari Tolman
         
Tolman (1886-1959) lahir di Newton, Massachusetts. Ia memperoleh gelar Master of Art (1912) dan doktornya di Universitas Harvard pada bidang psikologi. Lalu ia mengajar di Universitas Northwestern (1915-1918). Dari universitas ini ia pergi ke Uneversitas California dan menetap di sana hingga ia mengundurkan diri karena menolak untuk menandatangani sumpah setia yang dianggapnya sebagai pelanggaran kebebasan akademik. Akan tetapi ia kembali lagi ke universitas ini atas permintaan para professor.
Teori belajar Tolman dapat dikatakan sebagai campuran antara Teori Gestalt dan Behaviorisme. Setelah lulus dari Harvard Tolman pergi ke Jerman dan bekerja dengan Koffka. Keberadaan teori Gestalt terhadap proses berteorinya mempunyai pengaruh yang sangat signifikan. Sikapnya yang senang terhadap teori Gestalt tidaklah menghalangi perhatiannya terhadap behaviorisme. Tolman memperhatikan ada sedikit nilai dalam introspective approach, padahal ia merasakan psikologi merupakan obyektif yang komplit. Pemikirannya bertentangan dengan para behavioris yang menyatakan unit perilaku bisa dipelajari sebagai unsur-unsur yang terpisah. Para behavioris seperti Pavlov, Guthrie, Hull, Watson, dan Skinner digambarkan Tolman sebagai "Psychology of Twitchism" karena mereka melihat segmen-segmen perlilaku yang besar dapat dibagi menjadi segmen-segmen kecil, seperti reflek-reflek yang selanjutnya dianalisis.
Teori Behaviorisme Purposif yang diperkenalkan  oleh Tolman mengajarkan bahwa apabila suatu rangsangan tertentu menimbulkan respons tertentu, maka akan kita lihat rangsangan itu dalam perspektif yang baru. Umpamanya, pada waktu di SD atau SLTP kita diajar untuk selalu berlaku sopan dan menghormati guru. Sebagai akibatnya bila kita berhadapan dengan dosen atau guru besar di perguruan tinggi (berupa rangsangan), maka kita juga akan berlaku sopan, hormat, dan diam mendengarkan kuliahnya. Namun, dosen atau guru besar itu mungkin akan marah atau menegur jika kita bersikap demikian, karena masih dianggapnya sebagai kanak-kanak, bukan mahasiswa. Kita dituntut untuk lebih terbuka , lebih banyak berbicara, dan tidak terlalu bersifat formal. Disini kita melihat keadaan dalam perspektif yang baru, dan sebagai akibatnya kognisi kita akan membuat respons yang baru pula.
Selain memusatkan perhatian yang besar kepada rangsangan dan respons- luar, teori behaviorisme purposif juga memasukkan konsep kognisi kedalam sistemnya, dan melihat perilaku secara keseluruhan, tidak dari satu bagian kecil tertentu. Maksudnya, setiap perilaku harus dilihat sebagai bagian dari perilaku yang lebih besar yang mempunyai satu tujuan. Tolman juga mengemukakan apabila kita ingin memahami perilaku seseorang dengan baik maka terlebih dahulu kita harus memahami tujuan yang ingin dicapai oleh orang tersebut. jadi, unsur-unsur yang utama dan perlu dalam teori behaviorisme purposif adalah rangsangan, kognisi, peta kognisi, tujuan, dan barulah respons (gerak balas). Karena itu, teori ini juga sering digambarkan sebagai S-O-R. Formula itu dibaca sebagai stimulus-organisme-respons. Disini O melambangkan peran kognisi yang menengahi S dan R. Yang dimaksud dengan kognisi pada formula itub adalah proses akal atau mental untuk memperoleh, menyimpan, mendapatkan, dan mengubah pengetahuan. Pengetahuan ini sebagai hasil dari persepsi terhadap hubungan-hubungan dalam di antara benda-benda, kejadian-kejadian, atau apa saja yang kita alami melalui panca indra kita.
Teori kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Yang condong pada belajar secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya.
Lahirnya teori behaviorisme purposif ini ”diilhami” oleh teori medan gestalt yang pada mulanya diperkenalkan di Jerman oleh Wertheimer, Kohler, Koffka. Ketiga pakar psikologi Jerman ini menaruh perhatian besar pada peranan persepsi atau pengamatan dalam pembelajaran. Perhatikan gambar berikut!
·          

·                 
          
·                  


·              
·         
Kalau anda mengatakan bahwa anda hanya melihat adanya tiga buah titik pada gambar tesebut, maka menurut wertheimer dan kawan-kawannya anda tertipu. Mereka mengatakan, benar bagi siapa saja melihat adanya sebuah segitiga dan sebuah garis pada gambar itu. Gejala-gajala seperti inilah yang diamati oleh wertheimer dan kawan-kawannya yang telah mendorong lahirnya teori baru yang disebut teori medan gestalt. Oleh karena teori medan gestalt ini mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap teori Tolman dibandingkan dengan pengaruh behaviorisme, maka teori behaviorisme purposif ini digolongkan ke dalam teori-teori kognitif.
B. Teori Medan Gestalt dari Wertheimer
Max Wertheimer adalah tokoh tertua dari tiga serangkai pendiri aliran psikologi Gestalt. Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880. Ia mendapat gelar Ph.D nya di bawah bimbingan Oswald Kulpe. Antara tahun 1910-1916, ia bekerja di Universitas Frankfurt di mana ia bertemu dengan rekan-rekan pendiri aliran Gestalt yaitu, Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka.Koffka dan Kohler
Kata Gestalt berasal dari Jerman Psikologi Gestalt adalah suatu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Data-data dalam psikologi gestalt disebut phenomena (gejala), sebab dalam suatu gejala terdapat dua unsur yakni objek dan arti. Objek adalah sesuatu yang dapat dideskripsikan setelah objek tersebut ditangkap oleh indra. Pada objek tersebut kiata akan memberikan arti dan sekaligus kita mendapatkan suatu informasi dari objek tersebut.
Teori Medan
            Teori Gestalt ini dipandang sebagai usaha untuk mengaplikasikan teori medan. Teori ini dapat dideskripsikan sebagai system yang saling terkait secara dinamis dan setiap unsur-unsurnya saling terkait satu sama lain. Teori ini digunakan dalam berbagai level pada konsep Gestalt. Psikologi Gestalt percaya bahwa apapun yang terjadi pada seseorang maka itu akan mempengaruhi segala sesuatu yang ada pada diri orang tersebut. Misalnya seseorang yang lidahnya kegigit tanpa sengaja, orang itu akan merasa perubahan dalam menjalani kesehariannya, misalnya tidak bisa menikmati makanan pedas karena perih jika terkena lidahnya.
Medan diartikan sebagai sistem yang saling terkait secara dinamis, bagian yang satu saling mempengaruhi bagian yang lain. Psikologi gestlat percaya bahwa apa yang terjadi pada seseorang yang akan mempengaruhi sesuatu yang lain pada diri orang itu. Salah satu tokoh psikologi gestalt yang mengembangkan teori motivasi berdasarkan teori medan adalah Kurt Lewin (1890-1947) Lewin mengatakan bahwa perilaku manusia pada waktu tertentu di tentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu tertentu. Life space ( ruang kehidupan) seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini. Kejadian – kejadian tersebut menentukan perilaku yang akan menimbulkan pengaruh positif maupun negatif. Pengalaman tersebut akan menata ulang dan menyebabkan perubahan dalam hidup. Dan sebab-sebab tersebut bersifatdinamis. Jadi teori medan psikologis secara singkat dapat dijelaskan jika seseorang berada dalam mendan pengaruh yang terus menerus berubah, dan satu perubahan dalam satu sebab akan mempengaruhi semua sebab lainya.
Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt.
Psikologi Gestalt  bermula pada lapangan pengamatan  ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai  peranan latar  belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian  mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa  hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan  dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu  memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola  persepsi manusia . Pemahaman  dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian- bagiannya.

Kamis, 19 April 2012

Desi Arini LP_105104047

TUGAS PSIKOLINGUISTIK 3

Analisis Percakapan Dengan Menggunakan Teori- teori Para Ahli
Nama           : Desi Arini Lestari Pratiwi
Nim              : 105104047
Hari/Tgl       : Selasa 17 April 2012
Waktu          : 20.02 WITA
Tempat         : Vihara Sasanadipa

A . PERCAKAPAN
Rapat pembuatan majalah Dharma News
Lia                    : Bagaimana proposalnya sudah siap diantarkan?
Candra           : Sepertinya harus diulang ce’. Karena kalau mau ikut harga majalah darma  citra terlalu mahal, sedangkan majalah kita masih edisi perdana.
Imelda            : Bagaimana ini candra bilangnya kemarin harga sudah oke, proposal sudah siap kok diubah lagi. Aduhh..tidak jelas. 
Candra           : iya maaf, kemarin saya Tanya bante (biksu) nasehatnya jangan terlalu mahal patokan harganya. Jadi saya ikut saja.
Cecil               : Alasan itu..hehe…
Lia                   : ya sudah..kita ulangmi saja proposalnya jangan juga terlalu kaku. Cukup anggaran yang dipaparkan secara rinci. Hendra tolong papan tulisnya dipindahkan dibelakangnya candra supaya tidak membelakangi altar.
Hendra           : Siap!!
Lina                : selamat malam semua, maaf terlambat..
Jonatan          : Biasanya juga gitu…(semua tertawa)


B. ANALISIS PERCAKAPAN

1.Berdasarkan Teori Ferdinand De Saussure
De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur merupakan suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih.
Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga serta bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara atau pendengar.  Jika A berbicara maka B menjadi pendengar, begitupun sebaliknya.
Di dalam otak penutur terdapat konsep-konsep atau fakta-fakta yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi linguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Baik konsep maupun imaji bunyi itu terletak dalam satu tempat yaitu di pusat penghubung yang berada di otak. Jika penutur ingin mengemukakan sebuah konsep kepada pendengar, maka konsep itu membuka pintu kepada pewujudnya yang berupa imaji bunyi yang masih berada dalam otak (fenomena psikologis). Kemudian dengan terbukanya pintu imaji bunyi ini, otak pun mengirim satu impuls yang sama dengan imaji bunyi itu kepada alat-alat ucap yang mengeluarkan bunyi (fenomena fisiologis). Gelombang bunyi tersebut bergerak dari mulut penutur ke telinga pendengar (proses fisik). Dari telinga pendengar, gelombang bunyi terus masuk ke otak pendengar dalam bentuk impuls.
Contoh dari percakapan diatas, ketika Imelda mengatakan “bagaimana ini candra kemarin bilangnya harganya sudah pas, kok sekarang diubah lagi, aduhh..tidak jelas...”, imelda yang berperan sebagai penutur mengeluarkan bunyi yang telah terkonsep dalam otaknya. Gelombang bunyi itu bergerak dari mulut imelda melalui udara ke telinga ke enam pendengar dan bergerak terus masuk ke otak mereka dalam bentuk impuls. Candra yang berperan sebagai salah satu pendengar kemudian memahami konsep yang ada di dalam otak imelda dengan mendengarkan bunyi-bunyian tersebut lalu memproses bunyi-bunyi itu di dalam otaknya sehingga menimbulkan konsep yang sama seperti yang ada dalam otak imelda. Hal ini juga berlaku ketika candra yang menjadi pembicara kemudian imelda yang menjadi pendengar.




2.    Berdasarkan Teori Leonard Bloomfield
Bloomfield yang menganut paham behaviorisme menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviourisme tersebut. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan di mana unsur-unsur berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.
Pada percakapan di atas, lia berkata kepada Hendra, “Hendra tolong papan tulisnya dipindahkan dibelakangnya candra supaya kita tidak membelakangi altar.” Perkataan tersebut muncul karena adanya stimulus ketika Lia ingin menulis dipapan tulis. Perilaku Lia sewaktu berkata kepada Hendra merupakan sebuah respon dari stimulus ketika melihat papan tulis dan altar yang saling berhadapan sehingga dapat membuat peserta rapat membelakangi altar. Perilaku Hendra ketika mendengarkan bunyi-bunyi bahasa atau suara yang dikeluarkan oleh Lia merupakan stimulus. Otak Hendra memproses bunyi bahasa atau suara Lia di otaknya sampai bertindak dengan menjawab sebagai  respon dari stimulus tadi.
Jadi, dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Bloomfield hanya mengkaji bagian ketika bunyi-bunyi atau suara mulai dikeluarkan dari mulut sang pembicara. Hal tersebut disebabkan karena dapat diamati dan diobservasi secara konkret. Bloomfield yang menganut paham behaviourisme mengganggap bahwa perilaku dalam bertuturlah yang menjadi bagian penting dalam kajian linguistik.

3.    Berdasartkan Teori John Repert Firth
Firth mengatakan bahwa kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Namun, Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik. Misalnya, pada percakapan di atas ketika Lia mengatakan, ”ya sudah kita ulangmi saja proposalnya, jangan juga terlalu kaku… ”. Kata kaku dalam kalimat tersebut akan menimbulkan makna ganda ketika berdiri sendiri. Untuk menjelaskan makna sesungguhnya dari bentuk kata tersebut, kita perlu melangkah ke tingkat yang lebih tinggi yaitu tingkatan sintaksis.  Jika kata kaku dirangkaikan dengan kata-kata yang lain, seperti dalam percakapan di atas, maka dengan mudah akan diketahui bahwa kata kaku itu mengandung pengertian kata formal.