Jumat, 20 April 2012

ANALISIS PERCAKAPAN DENGAN MENGGUNAKAN TEORI FERDINAND DE SAUSSURE, LEONARD BLOOMFIELD, JOHN RUPERT FIRTH

  • Berikut ini adalah percakapan tiga orang mahasiswa yang kehabisan beras:
Dani: Apa mukerja Suradi?
Suradi: Saya lagi bikin makalah.
Dani: Makalah apa?
Suradi: Makalah tentang lemak,
Dani: Apa?
Suradi: Minyak, dan sabun. Itu yang akan saya bahas pada presentasi (tidak jelas). (tidak jelas) ada akh... ada akhnya ini apa maksudnya ini? ada aku tidak mengerti ini? ada akh.
Dani: Siapa yang mau datang kirimannyakah? Karena mau itu habis beras.
Suradi: (tidak jelas) kita kan sudah, Hendra juga sudah, Antum sudah mi?
Dani: Sudah.
Suradi: Mengerti saja!
Kak Asri: Saya juga sudah mi.
Dani: Kalau sudah semua mi itu sapa yang mau beli beras pale?
Suradi: Kan pasti bergilir, saya kan sudah giliranku kemarin (tidak jelas).
Dani: Giliranku saya kayaknya ini. Tapi siapa yang paling dekat datangnya anunya ini, yang paling dekat datang kirimannya ini?
Suradi: Kalau kita bicara masalah kiriman, sepertinya tanggal tiga akan datang.
Dani: Alhamdulillah. Itu kiriman uang atau...?
Suradi:  Biasanya itu berupa uang, ada kue-kue, pokoknya enak sekali, tunggu mi saja.
Dani: Siapa itu?
Suradi: Biasanya itu Abu Aisyah.
Dani: Oh, Kak Asri. Eh, teh paeng eh...
Suradi: Ai, mantap sekali.
Kak Asri: (tidak jelas)
Dani: Kapan paenk finalmu Suradi?
Suradi: Saya nanti itu, saya sudah mulai tanggal tujuh.
Dani: Tanggal tujuh? Tanggal tujuh kapan?
Suradi: Tanggal tujuh Sabtu ini.
Dani: Oh, kita Kak kapan?
Kak Asri: Saya tanggal sembilan.
Suradi: Itu pun ujian praktikum.
Dani: Sudah mi ujian tertuliskah?
Suradi:  Belum.
Dani: Kenapa paenk tidak belajar?
Suradi: Begitulah mahasiswa yang (tidak jelas) kita tahulah yang mempunyai IQ yang seperti itu. Susah untuk digambarkan bagaimana seharusnya mereka belajar.
Dani: Dekat apo mi itu habis beras.  (tidak jelas)
Suradi: Kalau kita berbicara soal beras maka beras itu tidak mengandung lemak.
Dani: Nda bisa di anu itu di, nda bisa dialihbahasakan. Apa na bilang Ruslan itu lagi? (tidak jelas)
Kak Asri: pinjam dulu laptop e?
Suradi: Jangan dulu!
Dani: Nanti pi kak.
Kak Asri: ada tugasku mau sakerja ini.
Dani: Tugas apa?
Kak Asri: Tugas kuliah!
Dani: Ah semoga deh, semoga datang beras supaya makan ki.
Kak Asri: Habis mie beraskah?
Dani: Ah?
Kak Asri: Habis mi?
Dani: Mau mi habis.
Suradi: Hampir saja!
Dani: Hampir saja!
Suradi: Sekiranya...
Kak Asri: Masih bisa dua bulan.
Suradi: Sekiranya kita semua adalah buaya maka habis mi itu beras sekarang. 

1. Analisis Percakapan Teori Ferdinand de Saussure
     Percakapan di atas terdiri dari tiga orang yaitu Kak Asri, Dani, dan Suradi. Perilaku bertutur di atas adalah sebagai suatu rangkaian hubungan antara ketiga orang tersebut. Perilaku bertutur di atas terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian-luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian-dalam  oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara dan pendengar. Jika Kak Asri berbicara maka Dani dan Suradi menjadi pendengar, jika Dani berbicara maka Kak Asri dan Suradi menjadi pendengar, dan jika Suradi berbicara maka Kak Asri dan Dani menjadi pendengar.
     Topik percakapan di atas adalah “Kehabisan Beras”. Di dalam otak Dani, terdapat konsep-konsep yang dihubungkan dengan bunyi-bunyi lnguistik sebagai perwujudannya yang digunakan untuk melahirkan atau mengeluarkan konsep-konsep tersebut. Contohnya ialah:
     “Siapa yang mau datang kirimannyakah? Karena mau itu habis beras.” Perkataan tersebut dikeluarkan oleh Dani ketika memasuki inti pembicaraan. Tentunya sebelum kalimat tersebut keluar maka Dani membuat konsep-konsep dahulu lalu kemudian dikeluarkan dengan bunyi-bunyi linguistik.
     Kemudian gelombang bunyi itu bergerak dari mulut Dani melawati udara ke telinga Kak Asri dan Suradi. Dari telinga keduanya gelombang bunyi terus masuk ke telinga mereka dalambentuk impuls. Dalam tahap ini terjadilah proses psikologis yang menghubungkan imaji bunyi dengan konsep yang sama seperti yang ada dalam otak Dani. Timbullah respon balik dari keduanya untuk menanggapi perkataan Dani. Jika salah seorang dari mereka berbicara maka Dani dan yang lain akan menjadi pendengar.

 2. Analisis Percakapan Teori Leonard Bloomfield
     Menurut Bloomfield, bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa unsure-unsur vokal (bunyi) yang di namai bentuk-bentuk lingusitik. Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem-fonem.
     Dani mengatakan pada kedua rekannya “Oh, Kak Asri. Eh, teh paeng eh...” Nah Suradi merespon dengan perkataan, “Ai, mantap sekali.”
     Sebelum Dani menawarkan teh tersebut, Dani melihat rekannya tidak minum teh padahal ia sendiri minum teh. Proses tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
1.    Dani melihat kedua rekannya tidak minum teh, dan ia berinisiatif menwarkan teh (Stimulus)
2.    Otak Dani bekerja mulai dari melihat teh hingga melakukan penawaran terhadap kedua rekannya.
3.    Perilaku atau kegiatan Dani sewaktu melakukan penawaran kepada kedua rekannya. (Respon)
4.    Suara yang dikeluarkan Dani wak tu berbicara melakukan penawaran kepada kedua rekannya (…)
5.    Perilaku kedua rekannya sewaktu mendengar suara yang dikeluarkan Dani (Stimulus)
6.    Otak kedua rekannya bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Dani sampai bertindak.
7.    Keduanya bertindak mengambil gelas yang berisi teh dan meminum tehnya (Respon)
8.    Kedua rekannya (khususnya Suradi) mengapresiasinya dengan mengeluarkan suara (Respon)
     Nomor 3, 4, dan 5 adalah lambang atau perilaku berbahasa yang dapat diobservasi secara fisiologis; sedangkan yang dapat diamati secara fisik hanyalah nomor 4 dan 8. Berdasarkan keterangan di atas maka yang menjadi data linguistic bagi teori Bloomfield adalah perilaku berbahasa atau lambang bahasa dan hubungannya dengan makna. Apa yang ada di dalam otak Dani mulai dari 1 dan 2 sampai ia mengeluarkan bunyi tidaklah penting karena keduanya tidak dapat di amati. Begitu pula dengan proses yang terjadi di dalam otak kedua rekannya setelah mereka mendengar suara itu yang membuat mereka bertindak adalah juga tidak penting bagi teori Bloomfield ini.

3. Analisis Percakapan Teori John Rupert Firth
     Dalam teori Firth, ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dati konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunya peranan sebagai lingkungan untuk unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis. Tingkatan-tingkatan tersebut terbagi menjadi lima tingkatan yaitu tingkatan fonetik, leksikon, morologi, sintaksis, dan semantik. Namun Fonetik dan semantiklah yang menjadi pusat perhatian Firth.
     Pada perkataan Suradi, “Sekiranya kita semua adalah buaya maka habis mi itu beras sekarang.” dapat dianalisis. Fonem dapat dikaji dalam hubungannya dengan kata. Bentuk yang meragukan pada satu tingkat, tidak selalu meragukan pada tingkat lain. Misalnya kata “buaya” dalam bahasa Indonesia. Pada tingkatan fonetik bentuk ini meragukan sebab ada beberapa makna kata “buaya” dalam bahasa Indonesia. Untuk menjelaskannya, harus beranjak pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan morfologi atau sintaksis atau semantik. Dalam konteks morfologi bentuk buaya tembaga ataupun buaya darat tidak meragukan lagi.

Sumber:
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2010. Kamus Ofline. Pusat Bahasa.
Mahmuda. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar: Badan Penerbit UNM.

AYU PRATIWI AHMAD - 105104034

Tugas 3
                     Menganalisis percakapan berdasarkan 3 teori linguistik

Tempat             : Rumah, Kamar Tidur Orang Tua
Waktu              : Pukul 18.21 wita
Hari/Tanggal     : Kamis, 19 April 2012
Percakapan
Wiwi               :    Di mana ko mau mendaftar ?
Dian                 :    Ndak ku tau’ pi
Wiwi                :   Kukira PAUD UNM ?
Dian                 :   Iye tapi masih kupikirki lagi pilihan keduaku
Mamam            :    FKM UIN
Wiwi                :    Saya kira IPS mau dia ambil?
Mamam            :   Biasa ji IPC. Lagian juga belum tentu, belum mendafatr, masih di pertimbangkan. Kalau  bebas tes tawwa, kalau masuk seratus besar, bisa bebas tes masuk UIN kan sudah dijanji sama Pak Bupati.
Dian                 :    Iye, semua jurusan bedeng. Tapi 100 besar se-kabupaten Gowa
Mamam            :   Oh, seluruh SMA, begitu?
Wiwi                :    Oo….
Mamam            :   Apa dia bikin attamu di luar?
Wiwi                :    Nonton.
Mamam            :    Belumpi lapar? pergiko dulu gorengkanngi perkedel di kulkas.
Wiwi                :    Iye.


Teori Linguistik
A.     Ferdinand De Saussure
Menurut Ferdinand De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur (speech act) sebagai satu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih seperti pada percakapan di atas. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian-luar dan bagian-dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga sedangkan bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara atau pendengar. Contoh potongan percakananya, yaitu:
Wiwi               :    Di mana ko mau mendaftar ?
Dian                 :    Ndak ku tau’ pi
Mamam            :   Kukira PAUD UNM ?
Dian                 :   Iye tapi masih kupikirki lagi pilihan keduaku
Pada percakapan di atas terlihat di pembukaan bahwa Wiwi sedang mengemukakan sebuah konsep kepada Dian sebagai pendengarnya dalam bentuk tuturan yang telah  terkonsepkan di pikirannya terlebih dahulu.  Tuturan tersebut bergerak dari mulut Wiwi kemudian melewati udara ketelinga Dian (proses fisik), dari telinga Dian gelombang bunyi bergerak terus masuk ke otaknya dan membentuk rangsangan yang membuatnya memberi umpan balik kepada Wiwi . Dalam hal ini sebelum Dian memberi respon atas tuturan Wiwi, dia melakukan proses berfikir yang termasuk dalam kegiatan bagian dalam menurut ferdinand de Saussure (proses psikologis). Sedangkan pada kegiatan bagian luar nampak pada saat Wiwi membuka sebuah konsep atau tindakan berbicara.
B.     Leonard Bloomfield
Menurut Bloomfield yang menganut paham behaviorisme menerangkan makna (semantic) dengan rumus-rumus behaviourisme tersebut. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan unsur-unsur itu. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat. Bloomfield yang menganut paham behaviourisme mengganggap bahwa perilaku dalam bertuturlah yang menjadi bagian penting dalam kajian linguistik.  Contoh potongan percakananya, yaitu:
Wiwi               :    Di mana ko mau mendaftar ?
Dian                 :    Ndak ku tau’ pi
Wiwi                :   Kukira PAUD UNM ?
Dian                 :   Iye tapi masih kupikirki lagi pilihan keduaku
Mamam            :    FKM UIN
Wiwi                :    Saya kira IPS mau dia ambil?
Pada percakapan di atas, nampak Mamam yang secara langsung masuk pada pembicaraan antara Dian dan Wiwi, karena dia secara tidak langsung mengamati pembicaraan Dian dan Wiwi yang berbincang di dekatnya, hal ini muncul karena Mamam mempunyai stimulus dalam menanggapi percakapan Dian dan Wiwi sampai akhirnya tuturan yang berbunyi, “FKM UIN” keluar dalam bentuk ujarannya yang merangsang stimulus dari Wiwi untuk menjawab tuturan itu dengan tuturan, “Saya kira IPS mau naambil?”
C.     John Rupert Firth
Menurut teori Rupert Firt menyatakan bahwa bahasaadalah susunan dari konteks-konteks. Tiap konteks-konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa.  Susunan dari kontek-konteks tersebutlah yang membentuk satu keselurahan dari kegiatan-kegiatan  yang penuh arti. Kajian teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Namun, Firth lebih memusatkan perhatian hanya pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik.  Contoh potongan percakananya, yaitu:
Mamam            :   Apa dia bikin attamu di luar?
Wiwi                :    Nonton.
Mamam            :    Belumpi lapar? pergiko dulu gorengkanngi perkedel di kulkas.
Wiwi                :    Iye.
Pada tuturan di atas, pada potongan percakapan “Pergiko dulu gorengkanngi perkedel di kulkas.” Terbagi atas : “Pergiko dulu /gorengkanngi perkedel/ di kulkas”.Mengandung makna semantis menggoreng perkedel di dalam kulkas. Dan “Pergiko dulu/gorengkanngi /perkedel di kulkas”. Mengandung makna menggoreng perkedel yang ada di dalam kulkas, namun secara konteks semantiknya, “Pergiko dulu/gorengkanngi /perkedel di kulkas” kalimat tersebut lebih berterima menurut Wiwi.

Sri Astuti_105104048


TUGAS 3 PSIKOLINGUISTIK
ANALISIS PERCAKAPAN BERDASARKAN TEORI-TEORI LINGISTK
TEMPAT                    : PERUMAHAN TATA INDAH 1 NO. 11
HARI/TANGGAL     : SELASA, 17 APRIL 2012
WAKTU                     : 15.25
NAMA                        : SRI ASTUTI

AMMA           : baruki pulang Jum?
JUM                : iye, karena tinggal dulu rapat di kampus. Kita?
AMMA           : dari tadi ji saya, karena tidak masuk dosenku. Tidak mauki ke Hartako jum?
JUM                : bikin apaki di sana?
AMMA           : acara 40 harinya puang Jhony, kalau mauki sama maki ke sana.
JUM                : bentar phe saya dech, karena capek sekalik. Mauk dulu tidur.
AMMA           : oh iye, duluan ma penk saya nach.

      A.    Analisis percakapan berdasarkan teori Ferdinand De Saussure
De Saussure memperkenalkan konsep dalam linguistik yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan asosiatif atau paradigmatik. Konsep sintagmatik dan paradigmatik adalah konsep analisis ilmu bahasa struktural yang mengandung pengertian bahwa kemunculan suatu unsur menjadi unit selalu dalam hubungan atau relasi antara unit dengan unit maupun dengan unsur lainnya. Denan kata lain, unit selalu dalam hubungan dengan unit atau unsur lainnya. Hubungan jenis pertama adalah hubungan unit-unit bahasa yang telah diucapkan atau diwujudkan. Sedangkan hubungan jenis kedua adalah hubungan antara unit dengan unsur yang belum diwujudkan.

Hubungan sintagmatik adalah hubungan horizontal antara unsur-unsur kalimat yang membentuk urutan linear. Hubungan paradigmatik hubungan antara unit yang telah terjelma dalam ucapan dan unsur yang belum terjelma dalam ucapan.

De Saussure menjelaskan bahwa perilaku bertutur atau tindak tutur (Speech act) merupakan suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih, seperti antara A dengan B. Perilaku bertutur ini terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga serta bagian dalam oleh jiwa atau akal yang terdapat dalam otak pembicara atau pendengar.  Jika A berbicara maka B menjadi pendengar dan jika B berbicara maka A menjadi pendengar.

Contoh pada percakapan di atas dapat dianalisis, bahwa percakapan di atas merupakan suatu tindakan bertutur seseorang yang dilakukan antara 2 orang atau lebih yang dalam tindakan tersebut terdapat berbagai macam unsure yang berperan baik dari dalam maupun dari luar.

B.     Analisis percakapan berdasarkan teori Leonard Bloomfield

Menurut Bloomfield bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur. Ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-ujaran yang terdiri dari potongan-potongan perilaku (tabiat) yang disusun secara linear.

Bloomfield yang menganut paham behaviorisme menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviourisme tersebut. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur tersebut di dalam lingkungan di mana unsur-unsur berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.

Perilaku Jum ketika mendengar ucapan Amma merupakan stimulus di dalam otak Jum. Otak Jum bekerja mulai dari mendengar ucapan Amma sampai bertindak dan bertanya merupakan respon dari stimulus tadi. perilaku Ocha ketika mendengarkan pertanyaan atau bunyi suara tesebut merupakan stimulus yang dialami Amma. Kemudian, Ocha menjawab pertanyaan itu sebagai respon dari stimulus tersebut.
C.     Analisis percakapan berdasarkan teori John Rupert Firth
Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks itu. Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks.

Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks itu. Menurut Firth struktur bahasa itu terdiri dari lima tingkatan yaitu tingkatan, fonetik, morfologi, leksikon, sintaksis, dan semantik.tingkatan, fonetik, morfologi, leksikon, sintaksis, dan semantik. Firtyh lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan semantik karena menurutnya tingkatan tersebut yang paling dekat dengan konteks.

Pada percakapan di atas, misalnya kalimat “baruki pulang Jum?”. Kata baruki di sini dapat menghasilkan makna yang berlainan, karena tidak memberi kejelasan bahwa kata ini mengandung arti lain. Untuk mengetahui makna sebenarnya, kata baruki ini dapat dilihat pada tingkatan selanjutnya misalnya morfologi, sintaksis, atau semantik.




nurfadhilah 105104052


Nama                           : Nur Fadhilah
Kelas/Nim                    : B/105104052
Jurusan             : Bahasa dan Sastra Indonesia (2010)
Tugas                           : Analisis percakapan berdasarkan Teori-Teori Linguistik
Mata Kuliah                 : Psikolinguistik
Dosen                          : DR. Mahmudah, M.Hum
Waktu Percakapan       : Selasa, 17-04-2012
Pukul                            : 12.48
Tempat             : Universitas Negeri Makassar (UNM), Fakultas Bahasa dan Sastra
Gedung DH, Ruang 103
Pembicara                    : Kardina & Fadillah
Penggunaan Bahasa      : 1. Bahasa Bugis
                                      2. Dialek Makassar

Percakapan                  :
 K        : “E… Dila eg pi na engka Miong?”
            (Dila apakah Miong (mia) belum ada (dating)?)
F          : “Hehehe… deg U issengi”.
            (Hehehe… Saya tidak tahu.)
K         : “E…Maga jek na deg Ko sibawa lo masikola?”
            (Kenapa kamu tidak bersamaan pergi ke kampus?) 
F          : “Magattik-gattik Ka jek!”
            (Karena saya tergesa-gesa!)
K         : “Tajenni Pale!”
            (Kita tunggu saja!)
F          : “ Hahaha lucunya kalo bahasa beginiki”.
            (Hahaha lucu juga kita berbahasa seperti ini)
Berikut analisis percakapan tersebut berdasarkan teori-teori linguistik :
A.     Teori Linguisti Ferdinand De Saussure
1.      De Saussure menjelaskan bahwa prilaku bertutur atau tindak tutu (speech act) sebagai satu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih. Pada percakapan diatas dapat kita lihat bahwa percakapan terjadi sekurang-kurangnya dua orang yakni Kadrina dan Fadillah.
2.      De Saussure mengatakan perilaku bertutur terdiri atas dua bagian atau struktur yakni bagian atau struktur dalam (mulut dan telinga) dan luar(akal dan jiwa). Pada percakapan diatas  bagian luar yakni mulut Kardina yang mengeluarkan tuturan dan telinga Fadillah sebagai penerima tuturan, begitu pula sebaliknya. Sedangkan bagian dalam yakni berupa konsep yang dimiliki Kardina dan Akal Fadillah dalam memproses konsep yang diberikan Kardina dalam bentuk stimulus kepada Fadillah, begitu pula sebaliknya.
3.      De Saussure menganut paham kognitif yang berpendapat bahwa berfikir lebih dulu lalu berbahasa. Bahwa sebelum berbicara terlebih dahulu terdapat konsep yangada dalam otak pembicara, jadi Kardina terlebih dahulu mempunyai konsep atau fakta mental sebelum diujarkan dalam bentuk bunyi-bunyi linguistic.
4.      Dalam bukunya, yang paling penting pada teori linguistikya adalah signe linguistique(kata) yang terdiri atas signifie(makna) dan signifiant (bentuk). Pada percakapan diatas dapat kita ambil satu  kata sebagai contoh.

            Signifie             
(makna)           “bersekolah”
signe linguistique       
(kata)              “masikola”                             
(Bhs. Bugis)                             Signifiant
(Bentuk)          /m,a,s,i,k,o,l,a/ dan /a,s,i,k,o,l,a / dalam bahasa Makassar

Gambar 4.1
           
Jadi, walaupun penggunaan bentuk ujaran dari bahasa yang berbeda tetap merujuk pada konsep yang sama yakni bersekolah.
5.      De Saussure membedakan antara parole, langue, dan langage, langage adalah bahasa secara umum yang mecakup seluruh atau semua bahasa bersifat abstrak, languekeseluruhan system tanda ataupun lambing bunyi yang digunakan kelompok masyarakat ertentu untuk berkomunikasi secara verbal dan berinteraksi sesama pengguna bahasa itu, kemudian parole adalah penggunaan bahasa secara perseorangan, sebagai realisasi dari langue yang bersifat individu berbeda dari individu yang satu dengan individu yang lainnya. Jadi jika kita padankan Bahasa Indonesia sebagai langage, maka bahasa-bahasa daerah yang ada seperti bahasa bugis, jawa, makassar, sunda, dan lainnya adalah langue, dan realisasi penuturan oleh Kardina dan Fadillah merupakan parole karena cara penuturan antar keduanya pasti berbeda baik dari dialeknya, cirri khas berbicaranya, maupun intonasi suaranya. Sehingga dapan digambarkan dengan struktur seperti berikut.

Langage
(Bahasa Indonesia)

Langue                                                                                           Parole
(Bhs. Jawa, Bugis, dll)                                                                    (Realisasi Individual)
                                                                  Gambar 5.1
      Dapat dilihat bahwa pada percakapan kardina terkadang m,enggunakan bunyi fonem [e] sebelum mengujarkan bahasa.
6.       Dalam proses bertutur dan memahami De Saussure membedakan antaraPelaksana yaitu pusat penghubung penutur dan telinga pendengar yang keduanya sebagai bagian yang aktif; dan penerima yaitu pusat penghubungpendengar dan telinga penutur yang keduanya sebagai bagian yang pasif. Maksud pernyataan De Saussure diatas ialah bahwa adanya proses timbale balik antara penutur dan pendengar yang masing-masing dapat menjadi pelaksana maupun penerima, ketika Kardina bertutur maka Fadillah sebagai penerima, begitu pula sebaliknya.
7.       Menurut De Saussure metode yang sesuai dalam analisis linguistic adalah segmentasi dan klasifikasi. Segmentasi ialah proses indentifikasi batas antara kata, suku kata atau fonem dalam bahasa alami lisan baik bagi proses mental maupun buatan,segmentasi antar kata yang dapat diterapkan yaknimenggunakan pemisah kata dengan spasi. Jadi pada pada contoh penulisan percakapan diatas menggunakan spasi sebagai pemisah kata, dan baik pada tuturan langsungnya menggunakan intonasi jeda sebagai pemisah, namun tidak terlalu terlihat hanya pada penulisan saja. Sedangkan klasifikasi adalah metode untuk menyusun data/kata secara sistematis atau menurut aturan kaidah yang telah ditetapkan sehingga kita dapat melakukan pembagian kata menurut kelasnya (fonem, kata, farase, klausa, kalimat). Pada contoh percakapan diatas kita dapat megambil kalimat E… Dila, deg pi na engka Miong?
Deg adalah kata, dst.
E… Dila deg pi na engka… adalah klausa
E… Dila, deg pi na engka Miong? adalah kalimat
8. 
B.     Teori Linguistik Bloomfield
1.  S                       r……………..s                                   R
    (1)               (2)  (3)                     (4)   (5)                              (6)  (7)
Penjelasan
(1). Kardina tidak melihat Mia berada dikelas (S=stimulus)
(2). Otak kardina bekerja mulai dari merasa Mia belum berada dikelas hingga berkata kepada Fadillah
(3). Perilaku/kegiatan Kardina sewaktu bertutur pada Fadillah (r=respon)
(4). Bunyu-bunyi/suara yang dikeluarkan Kardina pada saat berbicara kepada Fadillah (s=stimulus)
(5). Perilaku/kegiatan Fadillah sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi yang dikeluarkan Kardina
(6). Otak Fadillah mulai bekerja dari medengar suara Kardina sampai bertindak
(7). Fadillah bertindak/merspon stimulus dina dengan menanggapi Kardina (R=respon).
      Nomor (3),(4), dan (5) yaitu (r dan s) adalah ambang atau perilaku berbahasa (speech act) yang dapat diobservasi secara fisiologis (ilmu yang mempelajari tentang alat-alat tubuh dan bagaimana bunyi dihasilkan); sedangkan yang dapat diamati atau diperiksa secara fisik hanyalah nomor (4).
      Berdasarkan keterangan diatas maka yang menjadi data linguistic bagi teori Bloomfield adalah perilaku berbahasa atau lambing bahasa (r…….s) dan hubungannya dengan makna (S……R). apa yang terjadi alam otak Kardina mulai dari (1) hingga (2) sampai ia mngeluarakan bunyi tidaklah penting karena keduanya tidak dapat diamati. Begitu juga dengan proses yang terjadi dalam otak Fadillah setelah dia mendengarkan bunyi sampai bertindak (5 dan 6) juga tidak penting.
2.  Bloomfield menyatakan tidak mungkin kita dapat menunjjukkan bahwa pola-pola yang kita temui dalam beberapa bahasa berlaku juga pada bahasa lain. Jadi pada bahasa bugis yang digunakan oleh Kardina dan Fadillah belum tentu sama baik bentuk maupun pola dengan bahasa daerah yang lainnya.
3. 
C.     Teori Linguistik John Rupert Firth
1.      Firth dikenal sebagai tokoh analisis prosodi atau fonologi prosodi. Yang dimaksud prosodi menurut firth adalah struktur kata beserta cirri-ciri khas lagu kata itu sebagai sifat-sifat abstraksi tersendiri dalam keseluruhan fonologi bahasa itu. Contoh prosodi pada percakapan diatas ialah :
…lucunya / kalo bahasa beginiki. (sangat lucu jika kita berbahasa seperti ini).
            …lucunya / kalo bahasa / beginiki.(lucu jika bahasa, kamu seperti ini )
            … lucunya kalo / bahasa beginiki.(si Kalo lucu, berbahasa seperti ini)




Sabrianti - 105104054


Tugas Individu III

Menganalisis Sebuah Percakapan Menggunakan Tiga Teori Linguistik
Tempat         : Rumah (Jalan Toddopuli 17)
Hari             : 19 April 2012
Waktu          : 15.00 WITA


Mama           : Jam berapa tadi pulang Awing?
Adin             : Tidak saya tau. Masih tidur ka tadi.
Mama           : Kenapa seragamnya ada di teras?. Jadi kemana itu anak?
Adin             : Tidak taumi. Pergi kapang main game.
Mama           : Pergiko dulu cariki itu anak !

A.   Analisis Percakapan Berdasarkan Teori Ferdinand de Saussure
            De Saussure menjelaskan bahwa tindak tutur merupakan suatu rangkaian hubungan antara dua orang atau lebih. Tindak tutur terdiri dari dua bagian kegiatan yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar dibatasi oleh mulut dan telinga. Seperti percakapan Mama dan Adin di atas, “Jam berapa tadi pulang sekolah Awing?” Mama di sini  berperan sebagai penutur yang  mengeluarkan bunyi-bunyian berupa bahasa dari mulutnya sedangkan Adin berperan sebagai pendengar yang menangkap bunyi-bunyian dari mulut Mama melalui telinganya. Lalu, pada proses dibagian luar, tindak tutur akan diproses ke bagian dalam yang dibatasi oleh akal dan pikiran yang terdapat di dalam otak pembicara dan pendengar. Seperti pada percakapan , ketika Mama bertanya sebagai pembicara dengan mengeluarkan bunyi yang telah di simpan atau disusun di otaknya dan Adin yang berperan sebagai pendengar kemudian memahami konsep yang ada di otak Mama dengan cara mendengar bunyi tersebut sehingga Adin dapat mengerti pertanyaan yang dilontarkan dari Mama.

B.    Analisis Percakapan Berdasarkan Leonard Bloomfield
Menurut Bloomfield bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur. Ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-ujaran yang terdiri dari potongan-potongan perilaku yang disusun secara linear.
    Pada percakapan tersebut, Sikap Adin ketika Mama bertanya merupakan stimulus di dalam otak Adin. Otak Adin bekerja mulai Mama melontarkan tanya pada Adin hingga  bertindak merupakan respon dari stimulus tadi. Sikap atau respon Adin ketika mendengarkan pertanyaan atau bunyi suara tesebut merupakan stimulus yang dialami oleh Mama.
Percakapan tersebut dapat dibagi dalam istilah teori linguistik Bloomfield,
1.      Fonem, dalam percakapan itu terdapat fonem, misalnya pada kata mana yang terdiri dari empat fonem yaitu |m|, |a|, |n|, dan |a|.
2.      Morfem, misalnya dalam kalimat Mana Awing  terdapat morfem Mana dan Adin.  
3.      Frase ada  pada kalimat pergiko dulu cariki, terdapat frase pergiko dulu
4.      Kata ada pada kalimat lamamu itu bangun, terdapat kata lama, mu, itu, dan bangun.

C.   Analisis Berdasarkan Teori Ruppert Firth
Menurut Rupert Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori ini, ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa merupakan susunan dari konteks-konteks ini. Firth lebih memusatkan perhatian pada tingkatan fonetik dan tingkatan semantik, sedangkan yang lain tidak terlalu diperhatikan.
Misalnya pada percakapan di atas. “Jam berapa tadi pulang sekolah Awing? Tanya Mama Dan kemudian Adin menjawab “Tidak saya tau. Masih tidur ka tadi.”
Berdasarkan analisis abstraksi sintagmatik maka pertanyaan Mama mengandung makna yang abstrak mengenai kepulangan Awing. Di sini masih tampak samar pertanyaan, Awing pulang darimana. Namun pendengar (Adin) sudah bisa menangkap bahwa yang di maksudkan Mama adalah kepulangan Awing dari sekolah, karena pada percakapan berikutnya, Mama menanyakan soal seragam sekolah Awing yang ada di teras.