Kamis, 29 Maret 2012

Nur Asmah_ 105104032

Tugas_2

Mana lebih dahulu terjadi, bahasa atau pikiran? jelaskan pendapat anda dilandasi dengan teori yang ada!

Jawaban: 
 dengan menganalisa semua teori yang ada, saya mendukung dan setuju dengan teori Jean Piaget. Tanpa pikiran, bahasa tidak akan ada. Pikiranlah yang menentukan aspek-aspek sintaksis dan leksikon bahasa. Memang, Manusia itu berbahasa setelah adanya proses berpikir. kita tidak mungkin mengeluarkan bahasa tanpa adanya sebuah gambaran dikepala kita karena otak bekerja tanpa disadari sebelum kita mengeluarkan bahasa. itulah salah satu keagungan Tuhan, mengapa Dia menciptakan manusia dibekali dengan pikiran, termasuk untuk tujuan agar manusia itu bisa berbahasa sehingga manusia lain bisa mengerti dan terjadi interaksi kemudian dengan berbahasa itu pula mencerminkan bagaimana pikiran dan watak manusia itu sendiri.

Ismi Kurnia Dewi Istiani -105104033

Menurut Anda, yang mana lebih dahulu muncul, bahasa atau pikiran?
Jelaskan menurut teori !
Jawab:
Menurut saya, yang dahulu muncul adalah pikiran kemudian bahasa. Karena bahasa ada ketika otak memikirkan apa yang akan dikatakannya melalui bahasa sesuai dengan teori Jean Pieget.

Nur Asmah_105104032


Materi Persentasi.
Teori Leonard Bloomfield
Leonard Bloomfield lahir pada tanggal 1 April 1887, di Chicago. Dia lulus dari Harvard College pada usia 19 dan melakukan pekerjaan pascasarjana selama 2 tahun di University of Wisconsin, dimana ia juga mengajar di Jerman. Minatnya dalam linguistik terangsang oleh Eduard Prokosch, seorang ahli bahasa di departemen Jerman. Bloomfield menerima gelar doktor dari University of Chicago pada tahun 1909.
Pengaruh linguis Amerika Leonard Bloomfield (1887-1949) didominasi ilmu linguistik dari tahun 1933 - ketika karyanya yang paling penting, Bahasa, diterbitkan - untuk pertengahan 1950-an.
Leonard Bloomfield (1887-1949,Amerika) Dalam menganalisis bahasa Bloomfield dipengaruhi oleh 2 aliran psikologi yang saling bertentangan yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menggunakan prinsip-prinsip mentalisme(yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang menyenangkan terutama karena adanya tekanan emosi yang kuat. Jika melahirkan pengalaman dalam bentuk bahasa ini karena adanya tekanan emosi yang kuat maka muncullah ucapan(kalimat) ekslamasi. Jika pengalaman ini lahir dari keinginan berkominasi maka lahirlah kalimat deklarasi. Jika keinginan berkomunikasi ini bertukar menjadi kenginan untuk mengetahui maka akan menjadi kalimat interogasi.
 Sejak tahun 1925 Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teorinya yang kini terkenal dengan nama “linguistik struktural” dan “linguistik taksonomi”. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan linguistik Amerika, terutama di sekolah linguistik Yle yang didirikan menurut ajarannya. Bloomfield menerangkan makna (semantik) dengan rumus-rumus behaviorisme.
Akibatnya, makna menjadi tidak dikaji oleh linguis-linguis lain yang menjadi pengikutnya. Unsur-unsur linguistik diterangkannya berdasarkan distribusi unsur-unsur  tersebut di dalam lingkungan (environment) di mana unsur-unsur itu berada. Distribusi dapat diamati secara langsung sedangkan makna tidak dapat.
Teori linguistik Bloomfield ini akan bias diterangkan dengan lebih jelas kalau kita mengikuti anekdot “Jack and Jill” (Bloomfield, 1933:26). Dalam anekdot itu diceritakan Jack dan Jill sedang berjalan-jalan. Jill melihat buah apel yang sudah masak di sebatang pohon. Jill berkata kepada Jack bahwa dia lapar dan ingin sekali makan buah apel itu. Jack memanjat pohon apel itu; memetik buah apel itu; dan memberikannya kepada Jill.
Secara skematis peristiwa itu dapat digambarkan sebagai berikut.
S                               r ………………………………… s                                R
(1)                   (2)     (3)                                                 (4)   (5)                 (6)    (7)
Penjelasan;
(1)   Jill melihat apel (stimulus)
(2)   Otak Jill bekerja mulai dari melihat apel hingga berkata kepada Jack.
(3)   Perilaku atau kegiatan Jill sewaktu berkata kepada Jack (r= respons)
(4)   Bunyi-bunyi atau suara yang dikeluarkan Jill waktu berbicara kepada Jack (…)
(5)   Perilaku atau kegiatan Jack sewaktu mendengarkan bunyi-bunyi atau suara yang dikelurkan Jill (stimulus)
(6)   Otak Jack bekerja mulai dari mendengar bunyi suara Jill sampai bertindak.
(7)   Jack bertindakmemanjat pohon, memetik apel, dan memberikan kepada Jill (R= respons).
              Nomor (3), (4), dan (5) yaitu (r  s) adalah lambang atau perilaku berbahasa (speech act) yang dapat diobservasi secara fisiologis; sedangkan yang dapat diamati atau diperiksa secara fisik hanyalah nmor (4).
              Berdasarkan keterangan di atas maka yang menjadi data linguistik bagi teori  bloomfield adalah perilaku berbahasa atau lambang bahasa (r…………………………… s) dan hubungannya dengan makna (S ……. R).  apa yang terjadi  di dalam otak Jill mulai dari (1) hingga (2) sampai dia mengeluarkan bunyi tidaklah penting karena keduanya tidak dapat diamati. Begitu juga dengan proses yang terjadi di dalam otak Jack setelah dia mendengar  bunyi-bunyi itu yang membuatnya bertindak  (5 dan 6) juga tidak penting bagi teori Bloomfield ini.
              Menurut Bloomfield, bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam suatu masyarakat tutur (speech community). Ujaran inilah yang harus dikaji untuk mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-ujaran yang terdiri dari potongan-potongan perilaku (tabiat) yang disusun secara linear.
            Teori linguistik Bloomfield didasarkan pada andaian-andaian dan definisi-definisi karena kita tidak mungkin mendengar semua ujaran di dalam suatu masyarakat tutur. Jadi, tidak mungkin kita dapat menunjukkan bahwa pola-pola yang  kita temui dalam beberapa bahasa berlaku juga pada bahasa-bahasa lain. Ini harus diterima sebagai satu andalan. Kita  tidak mungkin menunjukkan bahwa lambang-lambang ujaran dihubungkan dengan makna karena tidak mungkin mengenal satu per satu makna itu dalam data.
            Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa unsur-unsur vokal (bunyi) yang dinamai bentuk-bentuk linguistik.  Setiap bentuk adalah sebuah kesatuan isyarat yang  dibentuk oleh fonem-fonem (Bloomfield, 1933;158).
Misalnya:
Pukul adalah bentuk ujaran
Pemukul adalah bentuk ujaran
Pe- adalah bentuk bukan ujaran
            Pukul terdiri dari empat fonem, yaitu : /p/, /u/, /k/,  dan /l/.  disini fonem  /u/ digunakan dua kali.
            Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa setiap ujaran adalah bentuk, tetapi tidak semua bentuk adalah ujaran. Menurut Bloomfield ada dua macam bentu, yaitu;
(1)   Bentuk bebas (free Form), yakni bentuk yang dapat diujarkan sendirian seperti  bentuk amat, jalan, dan kaki dalam kalimat “amat jalan kaki”,
(2)   Bentuk terikat (Bound Farm) yakni bentuk linguistik yang tidak dapat diujarkan sendirian seperti bentuk pe- pada kata memukul, dan bentuk –an  seperti pada kata pukulan.

Dalam teori linguistik Bloomfield ada beberapa istilah/term yang perlu dikenal, yaitu sebagai berikut:

Fonem adalah : satuan bunyi terkecil dan distingtif dalam leksikon suatu bahasa, seperti bunyi [u] pada kata bahasa Indonesia /bakul/ karena bunyi itu merupakan bunyi distingtif dengan kata /bakal/. Disini kita lihat kedua kata itu, /bakul/ dan /bakal/, memiliki makna yang berbeda karena berbedanya bunyi [u] dari bunyi [a].

Morfem adalah: satuan atau unit terkecil yang mempunyai makna dari bentuk leksikon. Umpamanya dalam kalimat Amat menerima hadiah terdapat morfem : Amat, me-, terima, dan hadiah.
Frase adalah : unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk  bebas atau lebih. Umpamanya dalam kalimat Adik saya sudah mandi terdapat dua frase, yaitu frase Adik  saya dan frase sudah mandi.
Kata adalah bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk bebas dan ditambah bentuk-bentuk yang tidak bebas. Misalnya, pukul, pemukul, dan pukulan adalah kata, sedangkan pe-, dan an,  bukan kata; tetapi semuanya pe-, -an, dan pukul adalah morfem.
Kalimat adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dari ujaran lain dan merupakan satu ujaran yang maksimum. Misalnya Amat duduk di kursi, Amat melihat gambar, dan Ibu dosen itu cantik.

Bloomfield dalam analisisnya berusaha memenggal-menggal bagian-bagian bahasa itu, serta menjelaskan hakikat hubungan di antara bagian-bagian itu. Jadi, kita lihat bagian-bagian itu mulai dari fonem, morfem, kata, frase, dan kalimat. Kemudian beliau juga menerangkan lebih jauh tentang tata bahasa serta memperkenalkan banyak definisi, istilah, atau konsep yang terlalu teknis untuk dibicarakan disini seperti konsep taksem, semem, tagmem, episemem,dan lain-lain.  Oleh karena itu, teori Bloomfield ini disebut juga Linguistik taksonomi, karena memotong-motong bahasa secara hierarkial untuk mengkaji bagian-bagiannya atau strukturnya.





Sri Astuti - 105104048

Menurut pendapat saya berfikir lebih dulu kemudian berbahasa karena seseorang yang mampu berbahasa berawal dari pemikiran. Berfikir dan berbahasa berbeda tetapi dalam penerpannya saling berhubungan karena berbahasa dapat dilakukan dari proses berfikir seseorang.
            Adapun teori yang melandasi alas an saya di atas adalah teori Jean Piaget, berpendapat bahwa justru pemikiranlah yang membentuk bahasa.tanpa pikiran bahasa tidak aka nada. Pikiranlah yang menentukan aspek-aspek sintaksis dan leksikon bahasa, bukan sebaliknya

MASNAH (105104040)


1.    Jelaskan pendapat anda manakah yang lebih dahulu bahasa atau pikiran?
Jawab:
Menurut saya, yang pertama membentuk bahasa adalah pikiran karena tanpa pikiran tidak akan ada bahasa. Bahasa merupakan hasil dari suatu pikiran. Pendapat saya berkenaan dengan teori Jean Piaget yang mengatakan  bahwa pikiranlah yang membentuk bahasa serta pikiranlah yang membentuk aspek-aspek sintaksis dan leksikon bahasa.
Sebagai contoh, ketika saya ingin menulis sebuah puisi, terlebih dahulu saya memikirkan bagaimana kerangka-kerangka menulis puisi,kemudian saya tuliskan dalam kertas atau buku dalam bentuk tulisan dengan bahasa saya.

Arini Suastika (105104037)


1.  Jelaskan pendapat anda disertai dengan teori yang mendukung, manakah yang dahulu
     Bahasa atau pikiran?
     Jawaban : Manusia adalah mahluk yang berpikir atau homo-sapiens itulah yang membedakan dengan mahluk hidup lain seperti binatang dan tumbuhan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tiada henti melakukan komunikasi, salah satu alat komunikasi yang digunakan adalah bahasa. Peranan bahasa sangat penting, namun apabila ditanya mana yang dahulu bahasa atau pikiran? Saya mendukung teori kognitif bahwa pikiran yang dahulu ada daripada bahasa. Menurut Teori Jaen Piaget (dalam Mahmudah, 2012: 32) tanpa pikiran bahasa tidak akan ada, pikiranlah yang menentukan aspek-aspek sintaksis dan leksikon, bukan sebaliknya. Manusia yang berbahasa tanpa berpikir lebih dahulu sama saja ucapannya tidak bermakna, untuk apa berkomunikasi menggunakan bahasa tanpa mengandung makna? Contoh: pedagang pakaian yang ingin dagangannya laris, tentu pedegang itu berpikir dahulu mengenai strategi memengaruhi pembeli kemudian ide-ide yang terkandung dalam pikirannya dikeluarkan melalui bahasa.  


Rujukan :
       Mahmudah. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar
        Anonim. 2011. Makalah Bahasa dan Pikiran. (Online)
        (http://www.makalah-bahasa-dan-pikiran.html). Diakses pada tanggal 22 Maret 2012.

TEORI LINGUISTIK F. DE SAUSSURE - NUR FADHILAH


NUR FADHILAH, 105104052, B, PBSI (2010)
TEORI LINGUISTIK FERDINAND DE SAUSSURE


A.    Telaah Sinkronik dan Telaah Diakronik danlam Studi Bahasa
Telaah Sinkronik dan Diakronik Ferdinand de Saussure membedakan telaah bahasa secara sinkronik dan telaah bahasa secara diakronik.Yang dimaksud dengan telaah bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada sutu kurun waktu tertentu saja. Misalnya, mempelajari bahasa Indonesia yang digunakan pada jaman Jepang atau pada masa tahun 50-an. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang jaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya. Jadi, kalau mempelajari bahasa indonesia secara diakronik, maka harus dimulai sejak jaman sriwijaya sampai jaman sekarang ini. Dengan demikian bisa dikatakan telaah bahasa secara diakronik adalah jauh lebih sukar dari pada telaah bahasa secara sinkronik.

B.     Langue dan Parole
Dalam bukunya  Course de Linguistique Generale, Ferdinand mewariskan kita mengenai paradigma langue dan parole.
Dalam mata de Saussure, bahasa dibedakannya menjadi tiga istilah yaitu: langage, langue, dan parole. Langage adalah bahasa pada umumnya, yang menyangkut semua bahasa, karena ilmu bahasa tidak terbatas pada penelitian satu bahasa atau beberapa bahasa, melainkan mencakup semua bahasa didunia yang mencoba meneliti katakteristik serta menunjjukkan kesamaannya, sehingga generalisasi terhadapnya apat di taik (Kaseng, 1992:89).
Namun Saussure sendiri telah berkonsentrasi pada paradigma langue dan parole. Langue adalah keseluruhan system tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak.
Menurut Saussure, langue adalah totalitas dari sekumpulan fakta suatu bahasa, yang disimpulkan dari ingatan para pemakai bahasa  dan merupakan gudang kebahasaan yang ada dalam setiap individu. Langue ada dalam otak, bukan hanya abstraksi-abstraksi saja dan merupakan gejala sosial. Dengan adanya langue itulah, maka terbentuk masyrakat ujar, yaitu masyarakat yang menyepakati aturan-aturan gramatikal, kosakata, dan pengucapan.
Sedangkan yang dimaksud parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya konkret karena parole tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan yang orang yang lain.
Parole sifatnya pribadi, dinamis, lincah, social terjadi padawaktu, tempat, dan suasana tertentu.
Dalam hal ini, yang menjadi objek telaah linguistic adalahlangue yang tentu saja dilakukan melaui parole, karena itulah parole itulah wujud bahasa yang konkret, yang dapat diamati dan diteliti.

C.    Signified an Signifiant
Signifiant dan Signifie Ferdinand de Saussure  mengemukakan teori bahwa setiap tanda atau tanda linguistik (signe atau signe lingustique) dibentuk oleh dua buah komponen yang tidak terpisahkan, yaitu komponen signifiant dan komponen signifie.Yang di maksud signifiant adalah citra bunyi aatu kesan psikologis yang timbul dalam pikiran kita. Sedangkan signifie adalah Pengertian atau kesan makna ynag ada dalam pikiran kita. Untuk lebih jelas, ada yang menyamakan signe itu sama dengan kata; signifie sama dengan ’makna’; dan signifiant sama dengan bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu. Hubungan antara signifiant dengan signifie sangat erat, karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Sebagai tanda linguistik, signifiant dan signifie itu biasanya mengacu pada sebuah acuan atau referen yang berada dialam nyata, sebagai sesuatu yang ditandai oleh signe linguistique itu. Sebagai contoh kita ambil kata bahasa Arab kitab dan dalam bahasa Inggris book yang berarti ’buku’ dan mengacu pada sebuah acuan, yaitu buku. Perhatikan bagan berikut:

Signifie             
(makna)           “Sebuah buku”
signe linguistique        
(kata)                           “buku”                             
Signifiant
(Bentuk)           /b,o,o,k/ dan /k,I,t,a,b/


D.    Relasi Sintagmatik dan Relasi Paradigmatik
Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik. Ferdinand de Saussure membedakan adanya dua macam hubungan, yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.
Hubungan sintagmatik ini terdapat, baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem dengan urutan /k, i, t, a, b/. Apabila urutannya diubah, maka maknanya akan berubah, atau tidak bermakna sama sekali.



Perhatikan contoh berikut :
k          i           t           a          b
b          a          k          t           i
t           i           k          a          b
k          a          t           i           b
b          a          t           i           k
Hubungan sintagmatik pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata, yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah, tetapi ada kemungkinan pula tak bermakna sama sekali. Umpamanya kata segiempat tidak sama dengan empatsegi, kata barangkali tidak sama dengan kalibarang, dan kata tertua tidak sama dengan tuater. Hubungan sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tidak bermakna sama sekali. Perhatikan contoh kalimat dibawah ini yang urutan katanya bisa diubah tanpa mengubah makna kalimat, yaitu :
Hari ini dia tidak datang karena hujan
Karena hujan hari ini dia tidak datang
Dia tidak datang karena hujan hari ini
Dia tidak datang hari ini karena hujan
Dan contoh kalimat berikut yang urutan katanya diubah menyebabkan makna kalimatnya berubah, yaitu:
Dila memanggil Andi                           Andi memanggil Dila
Ini baju baru                                         Ini baru baju
Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara subtitusi, baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis. Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi tampak pada contoh: antara bunyi /r/, /k/, /b/, /m/, dan /d/ yang terdapat pada kata rata, kata, bata, mata, dan data.
  r a t a
  k a t a
  b a t a
  m a t a
  d a t a
Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi tampak pada contoh: antara prefiks me-, di-, pe-, dan te-. Yang terdapat dalam kata merawat, dirawat, perawat, dan terawat.
 me rawat
 di rawat
 pe rawat
 te rawat
Sedangkan hubungan paradigmatik pada tataran sintaksis dapat dilihat pada contoh antara kata-kata yang menduduki fungsi subjek, predikat, objek adalah :
Dina    membeli           bunga
Saya    mencuci           baju
Dini     menulis            surat
Secara lengkap sintagmatik dan hubungan paradigmatik dapat kita gambarkan sebagai berikut :
Sintagmatik               
p                                 
A                     Dina                            membeli                                   bunga
R
A                     Saya                            mencuci                                   baju
D
I                       Dini                             menulis                                    surat
G
M                    Ali                               membaca                                 Koran
A
T                     Ani                              makan                                      kue
I
K                     Penerbit                       mencetak                                 buku pelajaran