Rabu, 18 April 2012

Sutriani Nasiruddin - 105104050


PERCAKAPAN
Tri       : “Eh, keluar betul ki pemainnya Ceribelle Nay?”
Nia      : “Iya, dua orang. Tri kah ketinggalannya deh!”
Fitri     : “Maklum tidak ada wadeng TV na kamseupai kasiaaan.”
Tri       : “Hahahah ioh kodong, maklummeko itu.”
Juli       : “Apakah itu TV, ada suara tidak ada gambar.”
Nia      : “Ayomi pale ikut audisinya.”
Tri       : “Ada kah?”
Fitri     : “Ada, ayomi.”
Tri       : “Aiiih, teyajja nakke deh! Kaumo tiga orang yang ikut, nanti saya toh yang jadi
  manajernu.”
Fitri     : “Ioh, baru ambil memang mi gaya yang kerenmu Nia, Juli.”
Iin        : “Aiihhh, belumpeko masuk di pintu na disurumeko itu keluar jurina. Hahhahaha.”
Iin        : “Iyo, karena tidak cocok sekali kau itu tiga orang pergi ikut begitu. Kalau pergi
  melawak cocokji.”
Fitri     : ”Jadi? Gue harus bilang WAWW gitu?”
Nia, Tri, Juli and Fitri            : “WAAWW. Hahahahaha.”
Uni      : “Edd, tongolomeki e.”
Tri       : “Hahahah, lapar ka we.”
Fitri     : “Saya juga kasiaan.”
Nia      : “Biarmi kasiaan matikiiii tidak makankiiii.”
Fitri     : “Siapa kasiaan ada nasinyaaa.”
Juli       : “Kasiaaaaaaannnn, matimeki kasiaaaann dak makan.”
Iin        : “Matimeko saja semua.”
Tri       : “Hahahahah masih banyak dosamu semua, janganmeko dulu mati.”
Uni      : “Kenapakah bahas-bahas mati lagi orang?”
Nia      : “Ioh. Ujung-ujungnya nanti Surga dan Neraka lagi itu dibahas.”
Tri       : “Mauka pale saya pergi masak. Siapaaa mau sudahkuuu?” (berteriak)
ALL     : “SAYAAAAA.”
Tri       : “HAHAHAHAHAHHA.”

ANALISIS PERCAKAPAN
Pada percakapan diatas akan dianalisis mengenai teori John Rupert Firth. Menurut Firth dalam kajian linguistik yang paling penting adalah konteks. Dalam teori Firth ada konteks fonologi, morfologi, leksikon, dan situasi. Bahasa adalah susunan dari konteks-konteks ini. Tiap-tiap konteks mempunyai peranan sebagai lingkungan untuk unsur-unsur atau unit-unit tiap tingkat bahasa itu. Susunan dari konteks-konteks ini membentuk satu keseluruhan dari kegiatan-kegiatan yang penuh arti. Maksudnya, tiap-tiap unsur pada tiap tingkatan mempunyai arti yang dapat dibedakan dan dianalisis.
A.    ANALISIS
Tri        : “Eh, keluar betul ki pemainnya Ceribelle Nay?”
             (Keluar maksudnya bukan berarti keluar melewati pintu, namun dalam kalimat yang dikatakan oleh Tri, keluar memiliki makna mengundurkan diri)
Nia       : “Iya, dua orang. Tri kah ketinggalannya deh!”
            (Ketinggalan yang dimaksudkan Nia, bukan berarti orang yang ditinggalkan. Tapi makna dari kata tersebut sesuai dengan percakapan sebelumnya berarti seseorang yang kurang informasi)
Fitri      : “Maklum tidak ada wadeng TV na kamseupai kasiaaan.”
              (Kamseupai merupakan bahasa remaja, singkatan dari Kampungan sekali uhh payah iuhh. Pada pernyataan Fitri, dia menyindir bahwa Tri kurang menemukan informasi dari TV.)
Tri        : “Hahahah ioh kodong, maklummeko itu.”
Juli       : “Apakah itu TV, ada suara tidak ada gambar.”
              (“Ada suara tidak ada gambar”. Jika dipenggal satu persatu kalimatnya, maka maknanya akan berbeda. Adapun makna yang akan terjadi yaitu:
§  Ada suara/tidak ada gambar -> Sesuatu yang mengeluarkan bunyi. Tapi tidak tau bentuk dan rupa sesuatu apa yang mengeluarkan bunyi itu.
§  Ada suara tidak/ada gambar -> seseorang bertanya bahwa apakah ada suara atau tidak, karena ada gambar yang terdapat.
Nia       : “Ayomi pale ikut audisinya.”
             (Pernyataan Nia, mengalihkan kembali pada permasalahan inti yang membahas mengenai Ceribelle)
Tri        : “Ada kah?”
Fitri      : “Ada, ayomi.”
Tri        : “Aiiih, teyajja nakke deh! Kaumo tiga orang yang ikut, nanti saya toh yang jadi
  manajernu.”
(“Aihhh teyajja nakke deh!”. Pernyataan ini juga dapat di pisah-pisah dan memberikan pengertian yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya. Adapun pengertian itu sebagai berikut:
§  Aihh/teyajja nakke deh! -> sangat tidak mau.
§  Aihh teyajja/nakke deh! -> sangat mau.
Fitri      : “Ioh, baru ambil memang mi gaya yang keren mu Nia, Juli.”
             (Kata ambil bermakna sebagai mempersiapkan. Menurut konteks pernyataan Fitri bahwa dia, Nia, dan Juli harus mempersiapkan gaya yang baik untuk ikut audisi.)
Iin        : “Aiihhh, belumpeko masuk di pintu na disurumeko itu keluar sama jurina. Hahhahaha.”
             (Pernyataan Iin tiba-tiba membuat suasana menjadi heboh dengan lelucon yang dibuatnya, sekaligus ada makna yang tersirat yaitu menyindir Fitri, Nia, dan Juli kalau mereka tidak punya kemampuan apa-apa untuk ikut audisi Ceribelle)
Uni       : “Iyo, karena tidak cocok sekali kau itu tiga orang pergi ikut begitu. Kalau pergi melawak
  cocokji.”
(Pernyataan yang dilontarkan Uni lebih mempertegas pernyataan yang dikatakan Iin. Itu artinya Uni setuju dengan maksud dari perkataan Uni)
Fitri      : “Jadi? Gue harus bilang WAH gitu?”
             (“Gue harus bilang WAH gitu” merupakan inspirasi dari sinetron Putih Abu-abu di SCTV. Maksud dari kalimat yang dikatakan Fitri dari konteks tersebut bahwa dia sangat tidak suka dengan apa yang dikatakn oleh Iin dan Uni.)
Nia, Tri, Juli and Fitri  : WAUHHH. Hahahahaha.
Uni       : “Edd, tongolomeki e.”
             (Merasa risih dengan tingkah laku dari Tri, Nia, Fitri, dan Juli.)
Tri        : “Hahahaha, lapar ka we.”
              (Membuat suasana menjadi berubah untuk menghindari pertengkaran antara teman-temannya. Dia bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan walaupun sebenarnya dia tidak lapar.)
Fitri      : Saya juga kasiaan.”
Nia       : Biarmi kasiaan matikiiii tidak makankiiii.”
Fitri      : Siapa kasiaan ada nasinyaaa.”
Juli       : Kasiaaaaaaannnn, matimeki kasiaaaann dak makan.”
              (Kalimat-kalimat yang tercetak tebal merupakan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh mereka ditengah-tengah percakapan untuk membuat suasana lebih seru. Fitri hanya memancing dengan kata kasiaaan. Kemudian dengan respek Nia dan Juli mengerti maksud dari apa yang dikatakan oleh Fitri.)
Iin        : “Matimeko saja semua.”
              (Masih dalam kondisi yang senang untuk menyindir.)
Tri        : “Hahahahaha masih banyak dosamu semua, janganmeko dulu mati.”
             (Mengikuti konteks pernyataan dari Iin, padahal konteks sebelumnya yang dia katakanasangat berbeda dengan pernytaannya lagi.)
Uni       : “Kenapakah bahas-bahas mati lagi orang?”
Nia       : “Ioh. Ujung-ujungnya nanti surga dan neraka lagi itu dibahas.”
Tri        : “Mauka pale saya pergi masak. Siapaaa mau sudahkuuuu?” (Berteriak)
              (Merubah konteks percakapan pada konteks sebelumnya yang dia utarakan sendiri.)
ALL      : “SAYAAAAA.”
Tri        : “HAHAHAHAHAHHA.”
B.    Laporan Kegiatan
Lokasi  : Jalan Daeng Tata VII No. 4 (Pondok Andi Nur)
Hari     : Sabtu, 14 April 2012.
Waktu : Pukul 19.30-selesai.
Pemain: Tri, Fitri, Nia, Juli, Uni, dan Iin.

Andi Musliana- 105104059

Nama: Andi Musliana
Nim: 105104059
Kelas: B
Makalah Psikolinguistik
 Teori Skinner
 Burrhus Frederic Skinner  lahir pada tanggal 20 Maret 1904 di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. hanya sebagian kecil dari prilaku yang bisa dipelajari.  Konsioning klasik hanya menjelaskan bagaimana prilaku yang ada dipasangkan dengan rangsangan yang baru, yang mana dalam teoritersebut tidak menjelaskan bagaimana prilaku operan baru tersebut dapat dicapai. Dalam teori belajarnya Skinner mendefinissikan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan prilaku.
Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.
Ada 4 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
  1. Belajar itu adalah tingkah laku.
  2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
  3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
  4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Gaya mengajar guru dilakukan secara searah dan dikontrol melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise). Manajemen kelas menurut Skinner berupa usaha untuk memodifikasi prilaku (behavior modification) antara lain dengan proses penguatan(reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi ingatan apapun pada perilaku yang tidak tepat.
Skinner percaya bahwa proses pembelajaran yang utama antara binatang dan manusia sama. Jadi, mesin pengajarannya juga sama yaitu didasarkan pada prinsip pembelajaran melalui penguatan. Bagi Skinner di dalam pembelajaran guru merupakan arsitek utama dalam pembentukan tingkah laku siswa agar siswa dapat bertutur sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa itu. Tujuan pembelajaran dibagi dalam tugas-tugas kecil yang diperkuat satu demi satu agar serangkaian perbuatan atau operan itu dapat diperkuat sehingga dengan demikian dapat menambah kemungkinan berulangnya perbuatan-perbuatan ini di kemudian hari. Di sini guru harus memperhatikan benar-benar waktu-waktu yang tepat untuk memberikan penguatan begitu juga selang waktu pemberiannya harus diatur dengan baik.
Menurut Skinner yang paling penting yang harus diperhatikan adalah hubungan antara respon yang berlangsung dapat diamati, jangan memikirkan hubungan mental di antara keduanya karena hubungan-hubungan mental itu tidak dapat diamati.
Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan ( reinforcement) maksudnya pengetahuan yang terbentuk melalui ingatan stimulus-respon akan semakin kuat apabila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan menjadi dua yaitu penguatan positiif dan penguatan negatif. Bentuk-bentuk penguatan positif yaitu hadiah, permen, kado, makanan, perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengajungkan jempol ) dan penghargaan. Bentuk-bentuk penguatan negatif yaitu menunda atau tidak memberi penghargaan, memberi tugas tambahan/menunjukkan perilaku tidak senang.
Beberapa prinsip belajar Skinner :
1.      Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diberi penguatan.
2.      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
3.      Materi pelajaran digunakan sistem modul.
4.      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5.      Dalan proses pembelajaran tidak digunakan hukuman. Untuk ini lingkungan perlu diubah untuk menghindari adanya hukuman.
6.      Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel rasio reinvorcer.
7.      Dalam pembelajaran digunakan shaping.
Konsep-konsep yang dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhan itu karena stimulus –stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dlam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya serta memahami konsep yang mungkin timbul akibat respon tersebut.
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakain kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilangkan bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik pebelajar, media, dan fasilitas pembejaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.
Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis atau dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti iniditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapakan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya. Contohnya yaitu percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak ang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
A.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner yaitu :
1.      Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan
2.      Kekurangan
Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan
lancar arnya kegiatan belajar-mengajar.
Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa. Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi didalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking Juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan para siswa: misalnya penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau olahraga.

Sitti Fatimah - 105104041

TugasMakalah


3.      Teori Behaviorisme dari John Broades Watson
John B. Watson dilahirkan di Greenvile pada tanggal 09 Januari 1878. John watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul “ Animal Education”. Watson dikenal sebagai ilmuan yang banyak melakukan penyelidikan tentang pikologi bintang.
Pada tahun 1913 di Columbia University, Watson menyampaikan ceramah berjudul " Pychologi a the Behaviourist view it " Dia mengklaim bahwa masalahnya adalah penggunaan metode kuno seperti introspeksi, dan subyek yang tidak tepat. Sebaliknya, ia mengusulkan gagasan dari studi Tujuan dari perilaku yang disebut "behaviorisme." Dia melihat psikologi sebagai studi tentang tindakan masyarakat dengan kemampuan untuk memprediksi dan mengontrol tindakan tersebut. Ide baru ini dikenal sebagai teori behavioris. 
 Watson juga berpendapat bahwa psikologi haru dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam Dia mengklaim bahwa masalahnya adalah penggunaan metode kuno seperti introspeksi, dan subyek yang tidak tepat. Sebaliknya, ia mengusulkan gagasan dari studi Tujuan dari perilaku yang disebut "behaviorisme." Dia melihat psikologi sebagai studi tentang tindakan masyarakat dengan kemampuan untuk memprediksi dan mengontrol tindakan tersebut. Ide baru ini dikenal sebagai teori behavioris. Pandangannya behaviorisme dianggap radikal dan dikenal untuk ekstrim anti mentalism-nya, pengurangan radikal berpikir untuk respon implisit, dan ketergantungan berat dan agak sederhana pada reaksi AC. 
Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisionig tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu.
Watson berpendapat bahwa introspeksi merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya. Alasannya adalah jika psikologi dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan diukur. Watson mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari apa yang dilakukan manusia (perilaku mereka) memungkinkan psikologi menjadi ilmu yang objektif.
Watson menolak pikiran sebagai subjek dalam psikologi dan mempertahankan pelaku sebagai subjek psikologi. Khususnya perilaku yang observabel atau yang berpotensi untuk dapat diamati dengan berbagai cara baik pada aktivitas manusia dan hewan. Tiga prinsip dalam aliran behaviorisme:
1)      menekankan respon terkondisi sebagai elemen atau pembangun pelaku. Kondisi adalah lingkungan external yang hadir dikehidupan. Perilaku muncul sebagai respon dari kondisi yang mengelilingi manusia dan hewan.
2)      Perilaku adalah dipelajari sebagai konsekuensi dari pengaruh lingkungan maka sesungguhnya perilaku terbentuk karena dipelajari. Lingkungan terdiri dari  pengalaman baik masa lalu dan yang baru saja, materi fisik dan sosial. Lingkungan yang akan memberikan contoh dan individu akan belajar dari semua itu.
3)      Memusatkan pada perilaku hewan. Manusia dan hewan sama, jadi mempelajari perilaku hewan dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku manusia.
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori belajar S-R (timulus – respon) yang langung ini juga dengan koneksionisme menurut Thorndike, dan behaviorisme menurut Watson. Teori perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok behaviorime ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk kepribadian manusia. Belajar dalam teori behaviorisme ini selanjutnya dikatakan sebagai hubungan langsung antara stimulus yang datang dari luar dengan respon yang ditampilkan oleh individu.
Pada umumnya teori belajar yang termasuk kedalam keluarga besar ehaviorisme memandang manusia sebagai organime yang netral-pasif-reaktif terhadap stimuli di ekitar lingkungannya. Orang akan beraksi jika diberi rangsangan oleh lingkungan luarnya. Demikian juga jika stimulus dilakukan ecara terus menerus dan dalam waktu yang cukup lama, akan berakibat berubahnya perilaku individu. Mialnya dalam hal kepercayaan ebagian masyarakat tentang obat-obatan yang diiklankan di televisi. Mereka sudah tahu dan terbiaa menggunakan obat-obat tertentu yang secara gencar ditayangkan medi televisi. Jika orang akit maag maka obatnya adalah promag, waisan, mylanta, ataupun obat-obatan yang lainnya. Jenis obat lain tidak pernah gunakan pada penyakit maag tadi, pada mungkin saja ecara higienis obat yang tidak tertampilkan.
Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R ini adalah dorongan (drive, rangsangan (stimulus) respon, dan penguatan (reinforcement). Unur yang pertama, dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri seorang anak untuk memenuhi kebutuhan yang sedang dirasakannya. Contohnya seorang anak merasakan adannya kebutuhan akan teredianya seejumlah uang untuk membeli buku bacaan tertentu, maka ia terdorong untuk membelinya dengan cara meminta uang kepada ibunya atau bapaknya. Unsur dorongan ini pada semua orang, mekipun kadarnya tidak sama, ada yang kuat menggebu, ada yang lemah tidak terlalu peduli akan terpenuhi atau tidak.
Unsur berikutnya adalah rangsangan atau stimulus. Unsur ini datang dari luar diri invididu, dan tentu aja berebeda dengan dorongan tadi yang datangnya dari dalam. Contoh  ransangan antara lain adalah bau masakan yang lezat, rayuan gombal, dll. Dari adanya rangsangan atau stimulus ini maka timbul reaksi dipihak sasasran atau komunikasi. Bentuk reaksi ini bisa macam-macam bergantung pada situasi, kondisi, dan bahkan bentuk dari rangsangan tadi. Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah yang disebut dengan respon. Dalam dunia teori belajar ini respon ini bisa diamati dari luar. Respon ada yang poitif, dan ada pula yang negatif. Yang poitif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang melakukakan repons terhadap stimulus yang ada, dan tentunya yang sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan yang negatif adalah apabila seseorang memberi justru yang sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.
Unsur yang keempat adalah masalah penguatan (reinforcement). Unsur ini datangnyadari pihak luar, ditunjukan kepada orang yang merespon. Apabila repon telah benar, maka diberi penguatan agar individu terebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respon eperti tadi lagi. seorang anaka kecil yang sedang mencoreti buku kepunyaan kakaknya, tiba-tiba dibentak dengan kasar oleh kakaknya, maka ia bisa terkejut dan bahka bia menderita keguncangan   sehingga berakibat buruk pada anak tadi. Memang anak tadi tidak mencoreti lagi buku lagi, nmun akibat yang paling buruk kemudian hari adalah bia menjadi trauma untuk mencoreti buku karena takut bentakan.  Itulah pengutan yang alah dari seorang kakak terhadap adikya yang masih kecil ketika sedang mau menulis buku. Dengan cara penguatan seperti itu sang anak meraa dilarang menulis.
Ada tiga kelompok belajar yang sesuai dengan teori belajar behaviorisme ini yaitu hubungan stimulus –respon (S-R bond), pembiasaan tanpa penguatan ( conditioning with no reinforcement), dan pembiasaan denga penguatan (conditioning through reinforcement)
Penekanan Teori Behaviorisme adalah perubahan tingkah laku setelah terjadi proses belajar dalam diri siswa. Teori Belajar Behavioristik mengandung banyak variasi dalam sudut pandangan. Peopor-pelopor pendekata-pendekatan Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan karena itu dapat diubah dengan belajar baru. Baru berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falafah dan sebagian lagi bercorak psikologi yaitu :
1.      Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baka atai buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bakal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya,
2.      Manusia mampu untuk berfleksi atas tingkah lakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
3.      Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkahlaku yang baru melalui suatu proses belajar
4.      Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain